Banyak
di antara murid saya yang merasa sudah kalah sebelum belajar dengan benar.
Bahkan ada di antara mereka yang menjadikan rasa malas sebagai penyebab
ketidak-berdayaannya dalam belajar menulis. Perlu diketahui bahwa rasa malas
sebenarnya kita sendiri yang ‘menciptakannya’. Mungkin tepatnya membiarkannya
agar terus menyelimuti pikiran dan perasaan kita. Akibatnya, kita kehilangan
gairah untuk memulai belajar menulis (atau juga kegiatan lainnya).
Belajar
menulis tidaklah sulit, jika kita mau beranjak untuk segera menuliskannya.
Sebab, sama seperti belajar silat, jika kita tak segera menggerakkan badan
untuk memeragakan jurus-jurus bela diri itu, amat wajar jika kemudian kita tak
bisa lihai bermain silat. Setiap orang punya potensi yang sama, yang seringkali
muncul pada kondisi ketika kita sudah memiliki minat yang kuat terhadap apa
yang ingin kita raih. Boleh percaya boleh tidak, jika kita sudah berbulat
tekad, maka halangan apapun tak akan mampu membendung kerasnya keinginan kita.
Menulis
itu keterampilan, maka harus sering dilatih dengan rajin menulis. Itu sebabnya,
belajar menulis itu solusinya adalah MENULIS. Lho, bukankah menulis erat
kaitannya dengan membaca, sehingga jika kita malas membaca juga akan berakibat
malas menulis? Hmm.. menurut siapa itu? Saya justru sering berhadapan dengan
orang yang hobi membaca tetapi dia terang-terangan tak suka menulis. Fenomena
apa ini?
Idealnya,
memang orang yang rajin membaca adalah orang yang juga rajin menulis. Kedua
aktivitas itu tak bisa dipisahkan. Tetapi faktanya, ada juga orang yang doyan
membaca tapi berat untuk menulis. Membaca baginya sebatas memenuhi hasrat
pengetahuannya semata, tak mau dibagikan lagi melalui tulisan kepada orang
lain. Orang jenis ini hanya berhenti pada tataran kepuasan diri semata, ilmu yang
didapat cukup baginya dan tak tergerak untuk menyebarkannya. Betul begitu?
Ah,
tidak juga. Lho, bagaimana ini? Iya. Sebab, ada juga orang yang memang bukan
tak suka menulis, tetapi karena ia tak bisa memulai menulis. Jika faktanya
demikian, berarti harus diyakinkan bahwa menulis itu sarana berbagi dan
berharap mendapat pahala dari kemanfaatan yang kita berikan kepada orang lain
melalui tulisan.
Lalu
bagaimana? Harus bagaimana? Jika ingin tetap belajar menulis, segeralah
langsung menulis saja. Tak usah dipikirkan terlalu lama. Salah itu wajar kok,
asal jangan sengaja berbuat salah. Berikutnya, kita harus mau belajar dari
kesalahan dengan cara memperbaikinya. Bagaiamana pun, belajar itu memang butuh
proses. Setuju? Jika setuju, segeralah menulis!
Salam,
O.
Solihin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar